Senin, 21 Januari 2013

IMUNISASI


I.            Konsep Dasar Imunisasi
A.     Definisi
Imunisasi merupakan usaha meberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasakan vaksin ke dalam tubuh membuat zat anti untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu (Hidayat, 2008)
Imunisasi atau pengebalan adalah suatu usaha untuk membuat seseorang menjadi kebal terhadap penyakit tertentu dengan menyuntikan vaksin (Manuaba, 1999: 76)
Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan, seperti vaksin BCG, DPT, Campak, Hepatitis dan melalui mulut seperti vaksin polio (Hidayat, 2005)
Imunisasi berarti memberikan setiap vaksin atau toksoid imunisasi menggambarkan proses yang menginduksi imunitas secara antifisial dengan pemberian bahan antigenik seperti agen imunobiologis (Nelson, 2000: 1248)

B.     Tujuan Imunisasi
Tujuan diberikannya imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu (Hidayat, 2005)

C.     Manfaat Imunisasi
1.      Manfaat untuk anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kelainan.
 2.      Manfaat untuk keluarga
Menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit, mendorong keluarga kecil apabila orang tua yakin bahwa anak-anak akan menjalani masa kanak-kanak dengan aman.
3.      Manfaat untuk negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara dan memperbaiki citra bangsa Indonesia diantara segenap bangsa dunia (Manuaba, 1999: 76)

D.     Jenis-jenis Imunisasi
1.      Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif terdiri dari induksi tubuh untuk mengembangkan pertahanan terhadap penyakit dengan pemberian vaksin atau toksoid yang merangsang sistem imun untuk antibodi dan respon imun seluler yang melindungi terhadap agen infeksi (Hidayat, 2005)
Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan menjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan menghasilkan respon seluler dan humoral serta dihasilkannya sel memori sehingga apabila benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespon (Hidayat, 2005)
Dalam imunisasi aktif terdapat 4 macam kandungan dalam setiap vaksinnya antara lain :
a.   Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna guna terjadinya semacam infeksi buatan dapat berupa polisakarida, toksoid atau virus dilemahkan atau bakteri dimatikan
b.  Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan
c.   Preservatif, satbiliser dan antibiotika yang berguna untuk menghindari timbulnya mikroba dan sekaligus untuk stabilisasi anti gen
d.  Adjuven yang terdiri dari garam alumunium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen.
(Hidayat, 2005: 102)
2.      Iminisasi Pasif
Imunisasi pasif terdiri dari pemberian proteksi sementara melalui pemberian antibodi yang dahasilkan secara oksogen (Nelson, 2000). Imunisasi pasif merupakan pemberian zat (Imunoglobulin) yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang disuga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi (Hidayat, 2005)

E.      Macam-macam Imunisasi
Di Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah (imunisasi dasar) dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di Indonesia sebagaimana telah diwajibkan oleh WHO ditambah denga hepatitis B. Sedangkan imunisasi yang hanya dianjurkan oleh pemerintah dapat digunakan untuk mencegah suatu kejadian yang luar biasa atau penyakit endemik atau untuk kepentingan tertentu (bepergian) misalnya jamaah haji yang disuntikan imunisasi meningitis (Hidayat, 2008)
Keberhasilan pemberian imunisasi pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya terdapat tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi, potensi anti gen yang disuntikan, waktu antara pemberian imunisasi dan satatus nutrisi terutama kecukupan protein karena protein diperlukan untuk meyintesis antibodi. Mengingat efektif dan tidaknya imunisasi tersebut dapat diharapkan dari diri anak. Berapa imunisasi dasar yang diwajibkan oleh pemerintah (program imunisasi PPI) dijelaskan sebagai berikut :
1.      Imunisasi BCG (Becilus Colmatte Guerin), (Hidayat, 2008)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC (tuberkolusis) yakni penyakit yang menyerang paru-paru selaput otak, tulang, kelenjar getah bening dan usus, yang berat sebab terjadi penyakit TBC yang primer atau ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG.
Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang dilemahkan.
a.       Tujuan                       :    Untuk mecegah TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak, TBC milier (pada seluruh lapangan paru) atau TBC tulang
b.      Frekuensi pemberian    :    Satu kali
c.       Waktu pemberian      :  Pada umur 0-11 bulan akan tetapi pada umumya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan
d.      Cara pemberian           :  Sub cutan atau dibawah kulit pada lengan    kanan atas
e.       Efek samping               :    Terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi limfodenitis regional dan reaksi panas
2.      Imunisasi DPT (Diphteri Partusis dan Tetanus), (Hidayat, 2008).
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Imunisasi DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat rancunnya akan tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid).
a.     Frekuensi pemberian :
1)      Pemberian pertama, zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap  vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti
2)      Pemberian kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang cukup
b.    Waktu pemberian        :  umur 2-11 bulan dengan interval 4 minggu       
c.    Cara pemberian           :  dibrikan melalui intramuskular pada paha kiri.
d.    Efek samping               :  pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan serta demam, efek berat dapat menangis hebat kesakitan kurang lebih 4 jam, kesadaran menurun, terjadi kejang dan shock.
3.      Imunisasi Polio (Hidayat, 2008)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomylitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.
a.    Frekuensi pemberian    :  4 kali
b.    Waktu pemberian        : umur 0-11 bulan dengan interval pemberian 4 minggu
c.    Cara pemberian           :  oral
4.      Imunisasi Campak (Hidayat, 2008)
Merupakan imunisasi yang di gunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak, karena penyakit ini sangat menular. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan
a.     Frekuensi pemberian     : satu kali
b.    Waktu pemberian         : umur 9-11 bulan
c.     Cara pemberian            : Sub cutan pada lengan kiri bagian atas
d.    Efek samping                  : Dapat terjadi ruam pada tempat suntikan dan panas
5.      Imunisasi hepatitis B (Hidayat, 2008)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis yang kandungannya adalah Hbs Ag dalam bentuk cair
a.       Frekuensi pemberian     : Tiga kali
b.      Waktu pemberian         : Umur 0-11 bulan
c.       Cara pemberian            : Intra musculer pada paha kanan bagian atas
d.      Efek samping                  : umumnya tidak terjadi, kalaupun terjadi itupun sangat jarang, berupa keluhan nyeri pada bekas suntikan yang disusul demam ringan dan pembengkakan. Namun reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari.
6.      Imunisasi MMR (Measles, mumps, dan rubella)
Merupakan imunisasi yang digunakan dalam memberikan atau mencegah terjadinya penyakit campak (Measles) gondong, parotis efidemika (mumps) dan rubella (campak jerman), dalam imunisasi MMR ini antigen yang dipakai adalah virus campak strain edmonson yang dilemahkan virus rubella strain RA 27/3 dan virus gonolong. Vaksin ini tidak dianjurkan untuk bayi dibawah satu tahun karena dikhawatirkan terjadi interaksi dengan antibodi maternal yang masih ada. Khusus pada daerah endemik, sebaiknya diberikan imunisasi campak yang monovalen dahulu pada usia 4-6 bulan atau 9-11 bulan dan booster (ulangan) dapat dilakukan MMR pada usia 15-18 bulan (Hidayat, 2008).
Tabel dosis dan pemberian imunisasi
Vaksin
Dosis
Cara pemberian
BCG
0,05 cc
Intra cutan di daerah Muskulus deltoideus
DPT
0,5 cc
Intra muscular
Hepatitis B
0,5 cc
Intra muscular
Polio
2 tetes
Mulut
Campak
0,5 cc
Subcutan daerah lengan kiri atas
TT
0,5 cc
Intra muscular
(sumber : depkes 2000)
Tabel jumlah interval waktunya pemberian imunisasi
Vaksin
Jumlah pemberian
Interval
Waktu pemberian
BCG
1 kali
-
0-11 bulan
DPT
3 kali
4 minggu
2-11 bulan
Hepatitis B
3 kali
4 minggu
0-11 bulan
Polio
4 kali
4 minggu
0-11 bulan
Campak
1 kali
-
9-11 bulan

MIOMA UTERI



2.2.1        Pengertian mioma uteri
Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya sehingga dapat disebut juga leiomioma, fibromioma, atau fibroid (Wiknjosastro, 2005).
Leiomyoma atau mioma uteri adalah tumor jinak uterus yang berbatas tegas, disebut juga fobroid, mioma, fibroma, dan fibromioma (Pierce, 2005).
Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya, sehingga dapat dalam bentuk padat karena jaringan ikatnya dominan dan lunak serta otot rahimnya dominan ( Manuaba, 2007).
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat sehingga dalam kepustakaan disebut juga leiomioma, fibromioma, atau fibroit (Mansjoer, 2002).

2.2.2        Etiologi
Menurut Manuaba (2007), faktor-faktor penyebab mioma uteri belum diketahui, namun ada 2 teori yang menjelaskan faktor penyebab mioma uteri, yaitu:
1.    Teori Stimulasi
Berpendapat bahwa estrogen sebagai faktor etiologi dengan alasan :
a.    Mioma uteri sering kali tumbuh lebih cepat pada masa hamil
b.    Neoplasma ini tidak pernah ditemukan sebelum monarche
c.    Miomauteri biasanya mengalami atrofi sesudah menopause
d.    Hiperplasia endometrium sering ditemukan bersama dengan mioma uteri
2.    Teori Cellnest atau Genitoblas
Terjadinya mioma uteri tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada cell nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen.
Selain teori tersebut, menurut Muzakir (2008) faktor risiko yang menyebabkan mioma uteri adalah:
a.    Usia penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun. Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarche (sebelum mendapatkan haid). Sedangkan pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10%.
b.    Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari hasil histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon esterogen endogen pada wanita-wanita menopause pada level yang rendah/sedikit (Parker, 2007). Otubu et al menemukan bahwa konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi dibandingkan jaringan miometrium normal terutama pada fase proliferasi dari siklus menstruasi (Djuwantono, 2004).
c.    Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. Penderita mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma mempunyai 2 (dua) kali lipat kekuatan ekspresi dari VEGF-α (a myoma-related growth factor) dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri (Parker, 2007).
d.    Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini mungkin berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi esterogen oleh enzim aromatease di jaringan lemak (Djuwantono, 2004). Hasilnya terjadi peningkatan jumlah esterogen tubuh yang mampu meningkatkan prevalensi mioma uteri (Parker, 2007).
e.    Makanan
Beberapa penelitian menerangkan hubungan antara makanan dengan prevalensi atau pertumbuhan mioma uteri. Dilaporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging babi menigkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma uteri. Tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen berhubungan dengan mioma uteri (Parker, 2007).
f.      Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar esterogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus kemungkinan dapat mempercepat terjadinya pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2007).
g.    Paritas
Wanita yang sering melahirkan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadinya perkembangan mioma ini dibandingkan wanita yang tidak pernah hamil atau satu kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil satu kali ( Schorge et al., 2008 ). Mioma uteri lebih sering terjadi pada wanita nullipara atau wanita yang hanya mempunyai satu anak (Swine, 2009). Pada wanita nullipara, kejadian mioma uteri lebih sering ditemui salah satunya diduga karena sekresi estrogen wanita hamil sifatnya sangat berbeda dari sekresi oleh ovarium pada wanita yang tidak hamil yaitu hampir seluruhnya estriol, suetu estrogen yang relatif lemah daripada estradiol yang disekresikan ovarium. Hal ini berbeda dengan wanita yang tidak pernah hamil atau melahirkan, estrogen yang ada di tubuhnya adalah murni estrogen yang dihasilkan oleh ovarium semuanya digunakan untuk proliferasi jaringan uterus (Guyton, 2001).
h.    Kebiasaan merokok
Merokok dapat mengurangi insiden mioma uteri. Diterangkan dengan penurunan bioaviabilitas esterogen dan penurunan konversi androgen menjadi estrogen dengan penghambatan enzim aromatase oleh nikotin (Parker, 2007).

2.2.3        Klasifikasi Mioma Uteri
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari servik uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain:
1.    Mioma Submukosa
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini dijumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dengan tindakan kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai tumor. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi, dan infark. Pada beberapa kasus penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.
2.    Mioma Intramural
Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. Bila di dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
3.    Mioma Subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
4.    Mioma Intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut mondering/parasitic fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma dibelah maka akan tampak bahwa mioma terdiri dari berkas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun sebagai kumparan (whorle like pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan sarang mioma ini.

2.2.4        Gejala Mioma Uteri
Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung dari lokasi, arah pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Hanya dijumpai pada 20-50% saja mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak mengeluh apapun. Hipermenore, menometroragia adalah merupakan gejala klasik dari mioma uteri. Dari penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 penderita ditemukan 44% gejala perdarahan, yang paling sering adalah jenis mioma submukosa, sekitar 65% wanita dengan mioma mengeluh dismenore, nyeri perut bagian bawah, serta nyeri pinggang. Tergantung dari lokasi dan arah pertumbuhan mioma, maka kandung kemih, ureter, dan usus dapat terganggu, dimana peneliti melaporkan keluhan disuri (14%), keluhan obstipasi (13%). Mioma uteri sebagai penyebab infertilitas hanya dijumpai pada 2-10% kasus. Infertilitas terjadi sebagai akibat obstruksi mekanis tuba falopii. Abortus spontan dapat terjadi bila mioma uteri menghalangi pembesaran uterus, dimana menyebabkan kontraksi uterus yang abnormal, dan mencegah terlepas atau tertahannya uterus di dalam panggul (Goodwin, 2009).
1.    Massa di Perut Bawah
Penderita mengeluhkan merasakan adanya massa atau benjolan di perut bagian bawah.
2.    Perdarahan Abnormal
Diperkirakan 30% wanita dengan mioma uteri mengalami kelainan menstruasi, menoragia atau menstruasi yang lebih sering. Tidak ditemukan bukti yang menyatakan perdarahan ini berhubungan dengan peningkatan luas permukaan endometrium atau kerana meningkatnya insidens disfungsi ovulasi. Teori yang menjelaskan perdarahan yang disebabkan mioma uteri menyatakan terjadi perubahan struktur vena pada endometrium dan miometrium yang menyebabkan terjadinya venule ectasia. Miometrium merupakan wadah bagi faktor endokrin dan parakrin dalam mengatur fungsi endometrium. Aposisi kedua jaringan ini dan aliran darah langsung dari miometrium ke endometrium memfasilitasi interaksi ini. Growth factor yang merangsang stimulasi angiogenesis atau relaksasi tonus vaskuler dan yang memiliki reseptor pada mioma uteri dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal dan menjadi target terapi potensial. Sebagai pilihan, berkurangnya angiogenik inhibitory factor atau vasoconstricting factor dan reseptornya pada mioma uteri dapat juga menyebabkan perdarahan uterus yang abnormal.
3.    Nyeri Perut
Gejala nyeri tidak khas untuk mioma, walaupun sering terjadi. Hal ini timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang disertai dengan nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosa yang akan dilahirkan, pada pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan dismenorrhoe. Dapat juga rasa nyeri disebabkan karena torsi mioma uteri yang bertangkai. Dalam hal ini sifatnya akut, disertai dengan rasa nek dan muntah-muntah. Pada mioma yang sangat besar, rasa nyeri dapat disebabkan karena tekanan pada urat syaraf yaitu pleksus uterovaginalis, menjalar ke pinggang dan tungkai bawah (Pradhan, 2006).


4.    Pressure Effects ( Efek Tekanan )
Pembesaran mioma dapat menyebabkan adanya efek tekanan pada organ-organ di sekitar uterus. Gejala ini merupakan gejala yang tak biasa dan sulit untuk dihubungkan langsung dengan mioma. Penekanan pada kandung kencing, pollakisuria dan dysuria. Bila uretra tertekan bisa menimbulkan retensio urinae. Bila berlarut-larut dapat menyebabkan hydroureteronephrosis. Tekanan pada rectum tidak begitu besar, kadang-kadang menyebabkan konstipasi atau nyeri saat defekasi.
5.    Penurunan Kesuburan dan Abortus
Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab penurunan kesuburan masih belum jelas. Dilaporkan sebesar 27-40%wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas. Penurunan kesuburan dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstisialis tuba, sedangkan mioma submukosa dapat memudahkan terjadinya abortus karena distorsi rongga uterus. Perubahan bentuk kavum uteri karena adanya mioma dapat menyebabkan disfungsi reproduksi. Gangguan implasntasi embrio dapat terjadi pada keberadaan mioma akibat perubahan histologi endometrium dimana terjadi atrofi karena kompresi massa tumor (Stoval, 2001). Apabila penyebab lain infertilitas sudah disingkirkan dan mioma merupakan penyebab infertilitas tersebut, maka merupakan suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi (Strewart, 2001).




2.2.5        Perubahan sekunder mioma uteri
Menurut (Joedosapoetra, 2005) perubahan sekunder mioma uteri sebagai berikut :
1.        Atrofi
Tanda-tanda dan gejala berkurang dan menghilang karena ukuran mioma uteri berkurang saat menopause atau setelah kehamilan.
2.        Degenerasi Hialin
Perubahan ini sering terutama pada penderita usia lanjut disebabkan karena kurangnya suplai darah. Jaringan fibrous berubah menjadi hialin dan serabut otot menhilang. Mioma kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
3.        Degenerasi Kistik
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak tumor ini sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
4.        Degenerasi Membatu ( Calsireus Degeneration )
Terutama terjadi pada wanita usia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.

5.        Degenerasi Merah
Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis: Diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskulerisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran yangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
6.        Degenerasi Lemak
Jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin. Pada mioma yang sudah lama dapat terbentuk degenerasi lemak. Di permukaan irisannya berwarna kuning homogen dan serabut ototnya berisi titik lemak dan dapat ditunjukkan dengan pengecatan khusus untuk lemak.

2.2.6   Diagnosis mioma uteri
1.        Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, faktor risiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi. Biasanya teraba massa menonjol keluar dari jalan lahir yang dirasakan bertambah panjang serta adanya riwayat pervaginam terutama pada wanita usia 40-an. Kadang juga dikeluhkan perdarahan kontak (Hart, 2000).

2.        Pemeriksaan Fisik
Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemriksaan bimanual rutin uterus. Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari uterus.
3.        Pemeriksaan penunjang
Menurut (Goodwin, 2009) pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis mioma uteri diantaranya :
a.    Temuan Laboratorium
Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoietin ginjal.
b.    Imaging
Pemeriksaan dengan USG ( Ultrasonografi ) transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat pada uterus yang kecil. Uterus atau massa yang paling besar baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri secara khas menghasilkan gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesran uterus. Histeroskopi digunakan untuk melihat adanya mioma uteri submukosa, jika mioma kecil serta bertangkai. Mioma tersebut sekaligus dapat diangkat.
c.    MRI ( Magnetic Resonance Imaging ) sangat akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan likasi mioma tetapi jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma.

2.2.7        Penatalaksanaan mioma uteri
1.    Konservatif
Penderita dengan mioma kecil dan tanpa gejala tidak memerlukan pengobatan, tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Jika mioma lebih besar dari kehamilan 10-12 munggu, tumor yang berkembang cepat, terjadi torsi pada tangkai, perlu diambil tindakan operasi.
2.    Medikamentosa
Terapi yang dapat memperkecil volume atau menghentikan pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Terapi medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara dari operatif. Preparat yang selalu digunakan untuk terapi medikamentosa adalah analog GnRHa (Gonadotropin Realising Hormon Agonis), progesteron, danazol, gestrinon, tamoksifen, goserelin, antiprostaglandin, agen-agen lain seperti gossypol dan amantadine (Verala, 2003). Terapi yang dapat memperkecil volume atau menghentikan pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia padasaat ini. Terapi medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara dari operatif.
Preparat yang selalu digunakan untuk terapi medikamentosa adalah analg GnRH, progesteron, danazol, gestrinon, tamoksifen, goserelin, antiprostaglandin, agen-agen lain (gossipol,amantadine).
a.    GnRH analog
Penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 penderita dengan mioma uteri yang diberikan GnRHa leuprorelin asetat selam 6 bulan, ditemukan pengurangan volume uterus rata-rata 67% pada 90 wanita didapatkan pengecilan volume uterus sebesar 20% dan pada 35 wanita ditemukan pengurangan volume mioma sebanyak 80%.
Efek maksimal dari GnRHa baru terlihat setelah 3 bulan dimana cara kerjanya menekan produksi estrogen dengan sangat kuat, sehingga kadarnya dalam darah menyerupai kadar estrogen wanita usia menopause. Setiap mioama uteri memberikan hasil yang berbeda-beda terhadap pemberian GnRHa.
Mioma submukosa dan mioma intramural merupakan mioma uteri yang paling rensponsif terhadap pemberian GnRH ini. Keuntungan pemberian pengobatan medikamentosa dengan GnRHa adalah:
1)   Mengurangi volume uterus dan volume mioma uteri.
2)   Mengurangi anemia akibat perdarahan.
3)   Mengurangi perdarahan pada saat operasi.
4)   Tidak diperlukan insisi yang luas pada uterus saat pengangkatan mioma.
5)   Mempermudah tindakan histerektomi vaginal.
6)   Mempermudah pengangkatan mioma submukosa dengan histeroskopi.
b.    Progesteron
Goldhiezer, melaporkan adanya perubahan degeneratif mioma uteri pada pemberian progesteron dosis besar. Dengan pemberian medrogestone 25 mg perhari selama 21 hari dan tiga pasien lagi diberi tablet 200 mg, dan pengobatan ini tidak mempengaruhi ukuran mioma uteri, hal ini belum terbukti saat ini.
c.    Danazol
Merupakan progesteron sintetik yang berasal dari testosteron. Dosis substansial didapatkan hanya menyebabkan pengurangan volume uterus sebesar 20-25% dimana diperoleh fakta bahwa danazol memiliki substansi androgenik. Tamaya, dkk melaporkan reseptor androgen pada mioma terjadi peningkatan aktifitas 5-reduktase pada miometrium dibandingkan endometrium normal. Mioma uteri memiliki aktifitas aromatase yang tinggi dapat membentuk estrogen dari androgen.
d.    Gestrinon
Merupakan suatu trienik 19-nonsteroid sintetik, juga dikenal dengan R 2323 yang terbukti efektif dalam mengobati endometriosis. Menurut Coutinho(1986), melaporkan 97 wanita, A(n=34) menerima 5 mg gestrinon peroral 2x seminggu, kelompok B(n=36) menerima 2,5 mg gestrinon peroral 2x seminggu, dan kelompok C(n=27) menerima 2,5 mg gestrinon pervaginam  3x seminggu. Data masing-masing dievaluasi setelah 4 bulan didapatkan volume uterus berkurang 18% pada kelompok A, 27% pada kelompok B, tetapi pada kelompok C meningkat 5%. Setelah masa pengobatan selama 4 bulan berakhir, 95% pasien amenore, Coutinho menyarankan penggunaan gestrinon sebagai terapi preoperatif untuk mengontrol perdarahan menstruasi yang banyak berhubungan dengan mioma uteri.
e.         Tamoksifen
Merupakan turunan trifeniletilen yang mempunyai khasiat estrgenik maupun antiestrogenik, dan dikenal sebagai “selective estrogen receptor modulator” (SERM). Beberapa peneliti melaporkan pada pemberian tamoksifen 20 mg tablet perhari untuk 6 wanita premenopause dengan mioma uteri selama 3 bulan dimana volume mioma tidak berubah, dimana kerjanya konsentrasi reseptor estradiol total secara signifikan lebih rendah. Hal ini terjadi karena peningkatan kadar progesteron bila diberikan berkelanjutan.
f.          Goserelin
Merupakan suatu GnRH agonis, dimana ikatan reseptornya terhadap jaringan sangat kuat, sehingga kadarnya dalam darah berada cukup lama. Pada pemberian goserelin dapat mengurangi setengah ukuran mioma uteri dan dapat menghilangkan gejala menoragia dan nyeri pelvis. Pada wanita premenopause dengan mioma uteri, pengobatan jangka panjang dapat menjadi alternatif tindakan histerektomi terutama menjelang menopause. Pemberian goserelin 400 mikrogram 3 kali sehari semprot hidung sama efektifnya dengan pemberian 500 mikrogram sehari sekali dengan cara pemberian injeksi subkutan.
Untuk pengobatan mioma uteri, dimana kadar estradiol kurang signifikan disupresi selama pemberian goserelin dan pasien sedikit mengeluh efek samping berupa keringat dingin. Pemberian dosis yang sesuai, agar dapat menstimulasi estrogen tanpa tumbuh mioma kembali atau berulangnya peredaran abnormal sulit diterima. Peneliti mengevaluasi efek pengobatan dengan formulasi depot bulanan goserelin dikombinasi dengan HRT (estrogen konjugasi 0,3 mg) dan medroksiprogesteron asetat 5 mg pada pasien mioma uteri, parameter yang diteliti adalah volume mioma uteri, keluhan pasien, corak perdarahan kandungan mineral, dan fraksi kolesterol. Kadar HDL kolesterol meningkat selama pengobatan, sedangkan plasma trigliserid meningkat selama pemberian terapi.
g.         Antiprostaglandin
Dapat mengurangi perdarahan yang berlebihan pada wanita dengan menoragia, dan hal ini beralasan untuk diterima atau mungkin efektif untuk menoragia yang diinduksi oleh mioma uteri.
Ylikorhala dan rekan-rekan, melaporkan pemberian Naproxen 500-1000 mg setiap hari untuk terapi selama 5 hari tidak memiliki efek pada menoragia yang diinduksi mioma, meskipun hal ini mengurangi perdarahan menstruasi 35,7% wanita dengan menoragia idiopatik.


3.    Operatif
Pengobatan operatif meliputi miomektomi, histerektomi dan embolisasi arteri uterus.
a.    Miomektomi, adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada mioma mioma submukosa pada mioma geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina.
b.    Histerektomi, adalah pengangkatan uterus, yang umumnya tindakan terpilih. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri.
Embolisasi arteri uterus (Uterin Artery Embolization / UAE), adalah injeksi arteri uterina dengan butiran polyvinyl alkohol melalui kateter yang nantinya akan menghambat aliran darah ke mioma dan menyebabkan nekrosis. Nyeri setelah UAE lebih ringan daripada setelah pembedahan mioma dan pada UAE tidak dilakukan insisi serta waktu penyembuhannya yang cepat (Swine, 2009). Suatu tindakan yang menghambat aliran darah ke uterus dengan cara memasukkan agen emboli ke arteri uterina. Dewasa ini embolisasi arteri uterina pada pasien yang menjalani pembedahan mioma. Arteri uterina yang mensuplai aliran darah ke mioma dihambat secara permanen dengan agen emboli (partikel polivynil alkohol). Keamanan dan kemudahan embolisasi arteri uterina tidak dapat dipungkiri, karena tindakan ini efektif.
Proses embolisasi menggunakan angiografi digital substraksi dan dibantu fluoroskopi. Hal ini dibutuhkan untuk memetakan pengisian pembuluh darah atau memperlihatkan ekstrvasasi darah secara tepat.23 Agen emboli yang digunakan adalah polivinyl alkohol adalah partikel plastik dengan ukuran yang bervariasi. Katz dkk memakai gel form sebagai agen emboli untuk embolisasi arteri uterina. Tingkat keberhasilan penatalaksanaan mioma uteri dengan embolisasi adalah 85-90%.
4.    Radiasi dengan radioterapi
Radioterapi dilakukan untuk menghentikan perdarahan yang terjadi pada beberapa kasus.
5.    Terapi inovatif berdasarkan aktivitas mekanisme molekular.
Setelah didapatkan mekanisme molekulaer mioma uteri, terapi yang lebih baik dapat secara khusus memecahkan masalah ini. Seperti penyakit lainnya, bila didapatkan kelainan gen yang spesifik akan membuka kemungkinan terapi gen di masa yang akan datang. Sebelum terapi gen digunakan lebih luas, kemungkinan kita harus melewati terapi yang ditujukan sebagai anti spesific growth factor angiogenesis yang terdapat di dalam endometrium dan miometrium.
Sejumlah molekul telah diidentifikasi dalam menghambat proses proliferasi sel endotel dan menghambat angiogenesis. TGF-ß dan sekresi reseptor bFGF berada di uterus dan menghambat proses ini. Selain itu fragmen 16-kd prolaktin, angiostatin, thrombospondin-I, platelet faktor 4, tissue inhibitor of metalloproteinase (TIMPs 1,2 dan 3), interferon  dan placentalproliferin-related protein secara negatif mengatur angiogenesis dan dapat dieksploitasi terapi.
Agen farmakologi yang berlawanan dengan faktor angiogenik ataupun obat-obatan yang dapat memblok produksi faktor ini, berikatan atau menurunkan bentuk aktifnya, atau berikatan dengan reseptornya, juga bermanfaat. Stimulasi angiogenesis yang merupakan target antagonis potensial, termasuk TGF-ß, bFGF, VEGF dan PDGF.
Terapi gen didefinisikan sebagai transfer rentetan DNA esensial atau terapetik ke dalam sel pasien untuk mendapatkan keuntungan klinis. Perubahan ini dapat menghasilkan meningkatkan produksi produk sel yang penting, penghambatan ekspresi gen yang bersangkutan, dan induksi respon imun serta penghancuran sel-sel yang rusak dengan kematian sel yang terprogram. Bentuk gen terapi yang paling sering adalah pembentuk, penggunaan transfer gen untuk menggantikan produk gen yang abnormal atau hilang. Walaupun transfer gen dapat dilakukan dilakukan dengan efikasi yang sama pada sel somatik dan sel germ, terapi ditargetkan semata-mata pada sel somatik dan tidak melibatkan pemusnahan secara langsung, atau perbaikan sel-sel yang mengalami kelainan.
Tekhnologi DNA recombinant menyediakan alat-alat untuk memungkinkan terapi gen. Ketika lokasi gen yang sama dikenali, terdapat empat langkah dasar dimana segmen DNA dikloning, digestion, ligation, transformation, dan selection.
Pada langkah pertama digestion, DNA dipotong untuk mengeluarkan fragmen atau gen yang diinginkan, dibantu dengan penggunaan sebuah kelas enzim yang disebut restriction endonucleases, yang memecah rentetan DNA dengan tepat. Setelah segmen DNA yang diinginkan didapatkan, segmen digabungkan atau diligasi untuk membantu vector recombinant, yang mana di sini berperanan enzim kelas dua yang disebut DNA ligases. Pada akhir langkah kedua ini, “gene” yang diminati bergabung ke dalam vektor yang dapat bereplikasi sendiri. Ada dua tipe vektor yang sering digunakan dalam gen terapi, vektor plasmid dan vektor viral. Plasmid DNA mudah tumbuh pada bakteri termasuk seluruh elemen yang penting sebagai ekspresi mamalia, termasuk promoter, enhancer sequences dan transcipt processing signals. Vektor viral termasuk sinyal yang menjamin recombinant viral genome bergabung dalam progeny viral particles. Langkah ketiga, transformasi terjadi dimana vektor dipindahkan dari test tube ke dalam sel host yang dapat bereplikasi. Akhirnya metode selection atau indentification dilakukan untuk menentukan sel host mana berisi recombinant DNA Human Vektor Recombinant dapat digunakan untuk mentransfer sel-sel DNA manusia untuk terapi gen. Fungsi normal gen dan protein encoded nya harus diketahui sebelum gen dianggap sebagai target dari terapi gen.
Terapi gen sitotoksik telah menunjukkan keberhasilan dalam menghambat pertumbuhan tumor, serta proliferasi sel benigna. Baru-baru ini FDA menyetujui terapi gen sitotoksik pada tumor otak dan tumor ovarium. Tidak seperti tumor ganas, mioma uteri menimbulkan gangguan bila ukurannya besar sehingga menimbulkan penekanan pelvis, obstruksi saluran kencing, atau frekuensi buang air kecil yang menjadi lebih sering, dan buang air besar menjadi sulit, bila tumbuh di sepanjang endometrium menyebabkan perdarahan uterus yang abnormal. Terapi gen sitotoksik dapat mengecilkan massa mioma uteri tanpa harus melakukan intervensi bedah mayor. Penelitian terbaru menunjukkan efektifitas terapi gen sitotoksik pada sel-sel mioma yang berasal dari tikus Eker (sel ELT-3). Sel-sel ditranfer dengan encoding DNA plasmid ß-galactosidase, SV-tk transgene, atau plasmid kontrol. Ekspresi gen reporter diperiksa dengan memonitor aktifitas enzim ß-galactosidase untuk menentukan presentasi sel-sel transfected yang diharapkan mengekspresikan timidine kinase. Efisiensi transfeksi ini 16,7% pada leiomyocyte manusia dan 39,8% pada sel-sel ELT-3.

2.2.8        Komplikasi
Manuaba (2007) berpendapat bahwa mioma uteri dapat berdampak pada kehamilan dan persalinan, yaitu:
1.    Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil, terutama pada mioma uteri submukosum.
2.    Kemungkinan abortus bertambah.
3.    Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar dan letak subserus.
4.    Menghalang-halangi lahirnya bayi, terutama pada mioma yang letaknya di serviks.
5.    Inersia uteri dan atonia uteri, terutama pada mioma yang letaknya di dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma.
6.    Mempersulit lepasnya plasenta, terutama pada mioma yang submukus dan intramural.
Menurut manuaba (2007), kehamilan dan persalinan juga dapat berdampak pada mioma uteri, yaitu:
1.    Tumor bertumbuh lebih cepat dalam kehamilan akibat hipertrofi dan edema, terutama dalam bulan-bulan pertama, mungkin karena pengaruh hormonal. Setelah kehamilan 4 bulan tumor tidak bertambah besar lagi.
2.    Tumor menjadi lebih lunak dalam kehamilan, dapat berubah bentuk, dan mudah terjadi gangguan sirkulasi di dalamnya, sehingga terjadi perdarahan dan nekrosis, terutama ditengah-tengah tumor. Tumor tampak merah (degenerasi merah) atau tampak seperti daging (degenerasio karnosa). Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri di perut yang disertai gejala-gejala rangsangan peritonium dan gejala-gejala peradangan, walaupun dalam hal ini peradangan bersifat suci hama (sterile). Lebih sering lagi komplikasi ini terjadi dalam masa nifas karena sirkulasi dalam tumor mengurang akibat perubahan-perubahan sirkulasi yang dialami oleh wanita setelah bayi lahir.
3.    Mioma uteri subserosum yang bertangkai dapat mengalami putaran tangkai akibat desakan uterus yang makin lama makin membesar. Torsi menyebabkan gangguan sirkulasi yang nekrosis yang menimbulkan gambaran klinik perut mendadak (acute abdomen).



diagram pathway

Jumat, 16 Maret 2012

Dia part II

kadang care...
kadang cuek..

gak bermaksud untuk Ge eR tapi emang gitu keadaannya..
trus harus apa??
gw juga gak tau..
dia jarang bales message gw tapi gw selalu message dia..

gw tau pasti Tuhan ngomong gini "i have better something for you"
but i can't wait for it...
ahh masa galau lagi... padahal bukan waktunya untuk galau.. it's time for move on because he has someone special but she is not me...
truuussss...
mau nangis juga buat apa... itu juga gak guna..
padahal kayak gini gw udah sering banget... sering tersakiti karena kelakuan gw sendiri yang terlalu berharap ...apa ini saatnya gw pergi dari kehidupannya ya.. ehmm any someone can tell me solution for this problem?
hahaha... adooohhhhhh apa pula ini.....gw gak bisa menyelesaikan masalah gw sendiri...

Selasa, 13 Maret 2012

dia

saat gw terpuruk kayak ginipun masih ada orang-orang di sekitar gw yang peduli sama gw...
sehari-hari mereka cuek, tapi kalo gw pnya masalah yang berat kayak gini mereka jadi care banget sama gw..

makasih banyak buat kalian yang udah ngasih perhatian dan bantuin gw...

emang masalah yang lagi gw alamin ini berat.. sampe2 gw sakit hati sendiri dan gw udah gak peduli, tapi satu orang membuat gw sadar.
kalo gw lagi kayak gini dan cerita ama dia, dia pasti mau dengerin dan ngasih saran2.. walaupun sehari- hari dia cuek banget ke gw, tapi waktu gw kayak gini dia jadi care banget..
pengen gw ngelepasinnya, karena gw sadar gak selamanya gw bakal bisa cerita ama dia terus.. tapi iy=tu masih susah untuk sekarang. tapi gw lagi belajar untuk ikhlas.

dia selalu membuat gw kagum sama sifatnya.. gw gak bisa kayak dia..
makasih buat kamu yang jauh disana, maaf selama ini udah gangguin terus, tapi gw juga belum bisa tanpa lw.. maaf ya.. :')

Senin, 12 Maret 2012


moment praktek di ruang VK RSUP dr. Soedono Madiun... huhu kangen sama moment ini deh ya,,
banyak kenangan, pengalaman, dan ilmu... teman baru... huaaaa... kangen banget...

Kamis, 12 Januari 2012

Hujann

hujan hari ini seperti menyadarkanku pada sesuatu...
hujan....
apakah saat hujan langit menangis??
berapa banyak air laut yang di serap awan sehingga awan hitam dapat menumpahkan air matanya hingga sepanjang hari tanpa hentinya..
awan.. apakah kamu menangisi makhluk-makhluk yang telah merusak lingkungan ini..dan tak pernah bersyukur pada Tuhan...

dalam hujan aq meminta sesuatu...
Tuhan bersihkan hati hambaMu ini seperti Engkau membersihkan hati Nabi Muhammad...
sadarkan hambaMu ini agar selalu ingat kepadaMu...bersyukur kepadaMu
selalu menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu..
Tuhan sadarkan hambaMu agar bukan hanya saat aq butuh aq lari kepadaMu.. tapi setiap waktu, setiap detik sadarkan aq untuk lari kepadaMu...
bukan hanya pada saat aq mengalami cobaan saja.. tapi saat aq senang, sedih.. sadarkan aq Tuhan.. sadarkan aq... yang tak pernah bersyukur kepadaMu...
ketika aq bersimpuh, dan bersujud.. hatiku tenang.. tapi mengapa itu sulit untukku ... sadarkan aq Tuhan.. sebelum aq menyesal.. mendapatkan hukuman dariMu..

hujan, panas, angin, atau cuasa lainnya... itu karunia dari Allah... itu nikmat dari-Nya....
tapi kenapa banyak orang yang mengeluh...
tak hanya hujan.. cuaca panas pun seperti itu...
Tuhan..
apa maunya makhluk-makhluk ciptaanMu ini.. yang hanya bisa mengeluh tanpa bersyukur...
Tuhan apakah makhluk-makhluk ciptaanMu ini sudah murka...
tak pernah bersyukur kepadaMu...



Selasa, 10 Januari 2012

Kuliah Hari Ini II

tanggal 7 januari 2012...
kuliah patologi kebidanan...

hari ini kuliahnya nerusin presentasi kemaren... ehmm hari ini tentang asma..
baru mau mulai presentasi, dokter udah dapet telp dari ruang VK.. katanya mau vacum ekstraksi dulu...
pfft nunggu lagi ... nunggu sejam demi kuliah hari ini..

pelajaran yang bisa didapat hari ini adalah... ibu hamil yang mempunyai riwayat asma tidak selalu harus Sectio untuk persalinannya... karena kebanyakan pasien riwayat asma, pada saat hamil cenderung tidak merasakan sakit asma...
menurut penjelasan dosen gw.. penderita asma itu hipersensitivitas terhadap udara, atau asap, atau hal lainnya.. pada saat penderita itu hamil, imun dalam tubuhnya itu dimatikan, itu artinya penderita tersebut tidak lagi mengalami hipersensitivitas. pada saat hamil, pertemuan sel sperma dan sel telur.... sel sperma merupakan benda asing yang masuk ke dalam rahim, jika mengalami hipersensitivitas maka tidak akan terjadi kehamilan, karena pasti sel sperma di dalam rahim akan di keluarkan dari rahim, entah itu melalui perdarahan atau yang lain...

gw belum dapet referensinya sih.. tapi logikanya seperti itu....
ada lagi..
jenis kelamin janin yang di kandung juga berpengaruh pada ibu hamil yang mempunyai penyakit asma.. karena janin perempuan cenderung memiliki hormon esterogen dan progesteron yang akan memperparah penyakit asma tersebut.


ada cerita lagi dari dosen gw yang dokter obgyn juga... tahun 2001, seorang ibu hamil meninggal setelah melakukan pemijatan perut di tukang-tukang pijat itu, karena ususnya terpelintir... sebenarnya pemijatan perut itu tidak di anjurkan karena bisa menyebabkan perlekatan usus atau usus terpelintir.. "saya sering di repotkan dengan tukang pijat " ujar dosen saya

itu hanya pengalaman dari dosen saya yang bisa di ambil pelajaran....

Jumat, 06 Januari 2012

Polip Endometrium

polip endoetrium di sebut juga polip rahim. ini adalah pertumbuhan kecil yang tumbuh sangat lambat dalam dinding rahim. mereka memiliki basis datar besar dan mereka melekat pada rahim melalui gagang bunga memanjang. mereka dapat bulat atau oval dalam bentuk dan mereka biasanya berwarna merah. besar yang muncul menjadi warna lebih gelap dari merah. seorang wanita dapat memiliki satu atau polip endometrium banyak, dan mereka kadang-kadang menonjol melalui vagina menyebabkan kram dan ketidaknyamanan. mereka dapat menyebabkan kram karena mereka melanggar pembukaan leher rahim. polip ini dapat terjangkit jika mereka bengkok kehilangan semua pasokan darah mereka. ada kejadian langka saat ini polip menjadi kanker. wanita yang telah mengalami polip endometrium sulit sekali untuk hamil

gejala
tidak ada penyebab pasti dari polip endometrium, tetapi pertumbuhan mereka dapat di pengaruhi oleh kadar hormon, terutama esterogen. seringkali tidak ada gejala, tetapi beberapa gejala dapat diidentifikasi terkait dengan pembentukannya
- sebuah kesenjangan antara perdarahan haid
- tidak teratur atau perdarahan menstruasi yang berkepanjangan
- perdarahan haid yang terlalu berat
- rasa sakit atau dismenore (nyeri pada saat menstruasi)

polip endometrium dapat di deteksi melaui pelebaran dan kuretase, CT scan, MRI, ultrasound atau histeroskopi. histeroskopi adalah prosedur dimana lingkup kecil di masukkan melalui leher rahim ke dalam rongga rahim untuk mencari polip atau kelainan rahim lainnya. polip endometrium dapat di hapus dan diobati melalui operasi dengan menggunakan kuretase atau histerektomi. jika kuretase di lakukan, polip dan terjawab tapi untuk mengurangi resiko ini, rahim biasanya di eksplorasi oleh histeroskopi pada awal proses bedah. sebuah polip besar dapat dipotong menjadi bagian-bagian sebelum sepenuhnya di singkirkan.
jika ditemukan polip menjadi kanker, histerektomi harus di lakukan. ada probabilitas tinggi kekambuhan polp bahkan dengan perawatan di atas.

Gak Jodoh

pagi itu ketika gw baru sampe kosan, nyokap telp gw.... di telp nyokap bilang kalo ada temen nyokap yang tertarik sama gw buat di jadiin menantunya... bahasa simple'a gw mau di jodohin ama anak temen nyokap... kaget, jantungan, syok... *lebay

gw paling anti sama kata-kata "perjodohan" bukan karena gw takut cowo'a jelek atau apa.. tapi udah kapok sama mantan gw hasil dari perjodohan temen2 gw.. >> skip kembali ke topik awal

jadi gw di mau di jodohin sama anak temen nyokap, dia kerja di riau, angkatan udara gitu deh... umurnya 26 th kalo gak salah.. "gile.. tua amat" dalam hati gw.... secara umur gw masih 19 tahun gituu...
gw liat foto2 dia..lumayan lah... manis... tapii.. di jodohin???? -_-"

gw pikir..pikir... trus cerita ke sahabat-sahabat gw... ternyata tanggepan mereka, coba kenal dulu aja....
sebenernya gw males... secara.. tuir cyiinn hhahaah

sampe kos gw mikir.. bokapnya (temen nyokap)  emang suka sama gw.. tapi nyokapnya... nyokapnya... gw yakin nyokapnya belum tentu suka sama gw...trus gw nanya nyokap...

sorenya..nyokap bilang, yang suka sama gw cuma bokap'a doank.. dan lw semua tau apaa?? gw di suruh nikah taun ini gara2 bokapnya pengen cepet2 dapet cucu.. he to the llo helloo gw masih 19 tahun dan gw belom lulus kuliah udah di suruh nikah... sorry aje deh.... gak mau...

ada komentar temen gw yang bikin gw ngakak "dia pkir ngawinin ayam kali cepet amat"

temen-temen gw pada heboh ama itu.. mereka  ngebully gw di twitter.... hahahaaha but it's fun for me...

alasan gw satu lagi yaitu.. gw masih sayang dia... Mr. "R"

Rabu, 04 Januari 2012

sebuah jawaban

bukan...bukan karena gw nyesel udah ngelakuin itu semua..tapi... gw cuma pengen dia bales pesan singkat itu.... cuma itu.. gak penting dia bales apa yang penting buat gw cuma dia bales.. dengan dia bales, dia ngehargain gw... gw tau dia orangnya cuek tapi seenggaknya cuma bales sms gw paling gak beberapa kata doank masa gak mau....

kalo udah urusan hati jadi ribet.. jadi gak tau gimana ngadepin perasaan itu.. heyy ada yang bisa bantu???
gw rasa gak ada....
ibarat bajaj ma belok... hanya dia dan Tuhan yang tahu...

rasanya pengen telp dia.. pengen teriak di kupingnya... "lo bales sms gw woyy!!!!"
ada gak sih yang ngerasain perasaan yang sama kayak gw?? rasanya tuh sakit ya 5 taun menahan perasaan... sayang penuh dengan kesabaran... kesabaran diambang batasss....
tapi gw penasaran....... Ya Tuhan tunjukkan jalanmu dan jawabannya Ya Allah.... kapan ya gw bisa tau itu semuaa...
pasti kalian bilang gini "heloo 2012 masih aja galau, masih aja mikirin orang yang gak mikirin lo"
gw tau kok lw semua pasti pikirannya kayak gitu... api gw gak bisaa...
apa terlalu setianya gw ama dia.. apa gw yang belom bisa buka hati gw buat orang lain.. entahlah... yang bisa jawab cuma hati gw..

sampe sekarang jujur gw masih sayang ama dia... kangen sama dia.. tapi gw udahgak berani sms dia sejak itu... sejak kesabaran gw mulai abis untuk sabar sayang sama dia...sedang butuh perhatiannya... sekarang...


baca bagian sebuah keputusan

Senin, 02 Januari 2012

Kehamilan dengan Penyakit Jantung

Gejala-Gejala Utama Penyakit Jantung
- Dyspneu d'effort --- payah jantung
- Palpitasi --- Aritmia
- Nyeri Dada --- Penyakit Jantung Koroner

Pada Pemeriksaan Fisik
- Bising sistolik ataupun diastolik
- Gangguan Irama jantung
- Pembesaran jantung

Pemeriksaan Penunjang
- Thorax Foto
- ECG
- Echocardiografi

Stadium Payah Jantung (berdasarkan New York Heart Assotiation- NYHA)
- Stadium I :
   No limitation of physical activity
- Stadium II :
   Slight limitation of physical activity
- Stadium III :
   Marked limitation of physical activity
- Stadium IV :
   Inability to perform any physical any physical activity without discomfort

Pengaruh Penyakit Jantung terhadap Kehamilan
- setiap gangguan terhadap fungsi jantung sebagai pmpa utama akan menurunkan perfusi jaringan secara
  sistemik
- gangguan perfusi utero-plasenta -- Abortus, IUGR, Prematuritas, IUFD
- Kelainan jantung bawaan pada ibu pada beberapa kasus di temukan kelainan jantung bawaan yang serupa
  pada janin

Pengaruh Terapy Terhadap Kehamilan
- hampir semua jenis obat-obatan di bidang kardiologi dan hipertensi adalah golongan C dan D
- pengobatan jantung dan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang dan terus menerus
- pertimbangan benefit-risk-ratio bersama-sama antara obstetri dan kardiologi

bagaimana metode persalinannya ??
- tidak semua kelainan jantung dan hipertensi di sertai gagal jantung
- bila di dapatkan gagal jantung, dinilai dulu stadiumnya (stadium I-IV)
- Stadium gagal jantung dapat berubah setiap saat. (saat-saat rawan adalah UK 28-30 minggu, kehamilan aterm, saat persalinan, beberapa jam post partum)
-Buku Acuan Nasional, 2002 : gagal jantung Stadium I-II dapat pervsginam sedangkan III-IV dengan SC

Apakah Penderita dapat hamil lagi, apa metode kontrasepsi yang aman?
- Pada penderita gagal jantung stadium I-II tidak ada kontraindikasi untuk hamil lagi, untuk stadim III-IV bila masih menginginkan hamil lagi dengan konseling yang mantap dan di bawah pengawasan tim
- kontrasepsi yang paling aman adalah steril. Pada kelainan katup jantung kontraindikasi pemakaian IUD-- resiko infeksi